
Kalau Minbol boleh jujur, ada satu hal yang masih kurang. Itu kelihatan banget selama 90 menit. Persib belum bermain secair musim lalu, terutama di babak pertama.

Ada sesuatu yang ganjil dalam sepak bola Indonesia. Kita begitu sibuk mengajari pemain tentang sportivitas, meminta suporter menjaga ketertiban, menuntut wasit berlaku adil, bahkan menghukum klub ketika ada pelanggaran. Tetapi di tempat yang paling menentukan arah permainan, kita seolah linglung. Siapa yang mengawasi para pengawas?

Baru-baru ini, liga kita alias kompetisi teratas sepak bola Indonesia disesaki kecurigaan. Sebenernya, sih, kecurigaan itu sudah ada sejak lama. Tapi, kecurigaan itu semakin meletup-letup setelah Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, bilang “pelatih saya” saat mengenalkan pelatih Persija, STY, dalam Launching Super League 2026/27.

Kalau ngomongin Persebaya, kita semua pasti punya satu pemikiran yang sama, tim besar yang lapar akan juara. Tapi untuk sampai ke tahap itu, nyatanya tak mudah bagi Persebaya untuk menyentuh level tersebut kalau hanya bermodalkan beli produk jadi dengan market value tinggi.

Kalau ada satu hal yang paling terasa dari Persib musim ini, jawabannya sederhana, cara mainnya udah beda.

Hari Minggu, 10 Mei 2026. Pekan ke-32 Indonesia Super League, Persija menjamu Persib. Pertandingan yang sesungguhnya biasa, tapi diimbuhi banyak cerita dan drama manusia.