Yang Hilang dari Kemenangan Pertama Persib Musim Ini
Kalau Minbol boleh jujur, ada satu hal yang masih kurang. Itu kelihatan banget selama 90 menit. Persib belum bermain secair musim lalu, terutama di babak pertama.

Sumber: ig/@persib
Bobotoh, tiga poin aman! Persib berhasil membuka Super League 2026/2027 dengan kemenangan atas PSM Makassar. Start yang tentu saja penting, apalagi Persib datang sebagai juara bertahan dengan skuad yang semakin mewah.
Peralta ada. Thom Haye ada. Ragnar ada. Berguinho, Menalo, Balsa dan pemain lainnya juga siap bikin Persib makin berwarna.
Mental juara setelah three peat juga rasanya masih nempel. Tapi… kalau Minbol boleh jujur, ada satu hal yang masih kurang. Dan itu kelihatan banget selama 90 menit.
Persib belum bermain secair musim lalu. Terutama di babak pertama.
45 menit awal terasa cukup mentok. Thom Haye dan Klok belum menemukan koneksi terbaiknya di tengah. Kombinasi Berguinho-Peralta belum terlalu cair, Beckham beberapa kali seperti terisolasi, sementara Barros juga belum terlalu nyaman ketika harus menjadi striker sekaligus titik pantul serangan.

Tapi kalau ditanya apa masalah paling ketara? Menurut Minbol, jawabannya ada di fase build-up.
Khususnya ketika Klok sebagai nomor 6 harus turun terlalu dalam untuk membantu tiga pemain belakang.
Sekilas memang terlihat aman. Persib punya tambahan pemain ketika membangun serangan dari belakang. Tapi efek sampingnya cukup besar. Klok jadi terlalu jauh dari Thom dan pemain depan.
Ketika gelandang PSM menutup jalur umpan ke tengah, pilihan Persib jadi terbatas. Bola akhirnya lebih sering diputar di belakang atau langsung dikirim ke depan.
Alhasil, Persib terlihat lebih sering bermain direct dibanding membangun serangan secara perlahan dari bawah. Dan di titik ini kita jadi teringat Federico Barba.
Barba musim lalu punya fungsi yang sangat penting. Dia bukan sekadar bek yang bertahan, tapi juga bisa menjadi playmaker dari lini belakang.
Dia nyaman menerima bola, berani membawa bola ke depan, dan mampu mengirimkan progresi langsung ke lini tengah.
Efeknya? Klok nggak perlu turun terlalu dalam. Gelandang bisa tetap berada di posisinya. Sayap bisa lebih leluasa. Dan Persib punya lebih banyak jalur untuk masuk ke pertahanan lawan.

Nah, profil seperti itu belum benar-benar terlihat di Persib saat menghadapi PSM.
Makanya ketika jalur tengah ditutup, solusi Persib cenderung mengarah ke bola direct atau long ball.
Tapi di sinilah kita harus kasih big applause buat Igor Tolić. Karena dia cepat membaca masalah.
Babak kedua, Igor melakukan perubahan dengan memasukkan Balsa Sekulić. Dan menurut Minbol, ini bukan sekadar pergantian pemain. Ini pergantian cara bermain.
Persib butuh pemain yang bisa menjadi target sekaligus titik pantul ketika bola dikirim langsung ke depan. Balsa memberikan opsi itu.
Ketika dia mulai mampu menjadi pemantul, pemain bertahan PSM dipaksa bereaksi. Ada yang harus mengikuti Balsa, ada yang harus menjaga pemain kedua yang datang dari lini tengah.
Dan ketika fokus pertahanan PSM mulai terbagi. Berguinho mulai punya ruang. Ditambah Adam Alis yang punya karakter box to box dan berani masuk ke area depan, pola serangan Persib pun mulai lebih kaya.
Jadi bukan cuma “Bola ke striker, semoga jadi peluang.” Tapi mulai ada bola kedua, pergerakan pemain dari lini kedua, pemain sayap yang mendapatkan ruang, dan kombinasi yang lebih hidup. Itulah yang membuat Persib di babak kedua terlihat jauh lebih berbahaya.

Jadi, apakah Persib sudah sempurna? Belum.
Bahkan menurut Minbol, masih ada pekerjaan rumah besar di fase build-up. Persib butuh solusi supaya ketika Klok tetap bermain sebagai nomor 6, dia tidak harus selalu turun terlalu dalam.
Tapi justru dari pertandingan pertama ini Persib mendapatkan satu hal positif. Persib punya kemampuan mengubah pertandingan.
Ketika plan pertama tidak berjalan, Igor tidak memaksakan keadaan. Dia mengubah struktur, mengubah karakter serangan, dan hasilnya permainan Persib menjadi lebih hidup.
Dan untuk tim yang punya ambisi besar musim ini, kemampuan beradaptasi seperti ini sangat penting. Karena tim bagus bisa menang ketika bermain bagus.
Tapi tim juara? Mereka juga harus tahu bagaimana caranya menang ketika bermain tidak bagus. Dan Persib sudah menunjukkan itu di laga pertama.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!






