Persib Era Igor Tolic: Tinggalkan Cara Main Bojan, Berani Main Cantik. Tapi Siap Nggak Buat Liga Indonesia?
Kalau ada satu hal yang paling terasa dari Persib musim ini, jawabannya sederhana, cara mainnya udah beda.

Sumber: Persib
Persib yang dulu kita kenal di era Bojan Hodak adalah tim yang nggak terlalu peduli soal penguasaan bola. Mau lawan pegang bola 60 sampai 70 persen pun nggak masalah. Yang penting begitu bola direbut, dua atau tiga umpan langsung mengarah ke gawang lawan.
Makanya banyak yang bilang Persib zaman Bojan itu pragmatis. Tapi justru dari sepak bola yang "nggak ribet" itulah lahir tiga gelar liga beruntun.
Counter attack jadi makanan sehari-hari. Pergantian sisi cepat dari kanan ke kiri bikin pertahanan lawan kocar-kacir. Full back berani naik, winger tinggal menyerang ruang kosong, lalu bola dikirim ke depan. Sederhana, tapi mematikan.
Nah, sekarang semuanya mulai berubah.
Dari beberapa pertandingan Piala Presiden, kelihatan banget kalau Igor Tolic punya cara pandang berbeda. Persib sekarang nggak buru-buru menyerang.
Bola diputar dulu di belakang. Bek ke gelandang, balik lagi ke bek, baru pelan-pelan naik ke depan. Intinya, Persib pengin menguasai permainan lebih dulu sebelum mencari celah. Istilah kerennya sih ball possession.
Kalau di Eropa, cara main seperti ini sudah biasa. Tim seperti Manchester City, Arsenal, sampai Barcelona hidup dari penguasaan bola.
Pertanyaannya, apakah gaya seperti itu cocok di Liga Indonesia?
Kalau dilihat satu-satu, pemain baru Persib memang mendukung gaya main Igor.
Gakuto Notsuda misalnya. Dia tipe gelandang yang senang pegang bola. Jarang panik walaupun ditekan lawan. Selalu cari umpan pendek supaya permainan tetap hidup.
Lalu ada Balsa Sekulic. Dia bukan striker yang doyan adu badan seperti Ramon Tanque. Balsa lebih suka mencari ruang di kotak penalti. Tinggal dapat umpan matang, langsung selesai.
Di sayap juga terasa bedanya. Peralta, Menalo, sampai terbaru Ragnar memang sama-sama cepat. Tapi mereka lebih banyak bergerak tanpa bola daripada sibuk menggocek lima pemain sekaligus.
Beda dengan winger sebelumnya macam Ciro Alves atau Berguinho yang dulu sering bikin penonton berdiri karena aksi individunya.
Perubahan lain yang cukup menarik ada di posisi bek sayap. Dulu, bek kanan dan kiri Persib hampir selalu overlap. Bahkan kadang masuk ke tengah buat bikin lawan bingung.
Sekarang mereka lebih sabar. Posisinya lebih melebar dan lebih dalam. Tujuannya supaya jalur passing tetap terbuka ketika Persib membangun serangan dari belakang.
Secara permainan memang jadi lebih rapi. Tapi efek sampingnya juga terasa. Serangan Persib jadi nggak seagresif musim lalu.
Ball possession itu sebenarnya enak ditonton. Masalahnya, cara main seperti ini butuh bek yang jago ngumpan. Bukan cuma jago menyapu bola.
Bek harus berani membawa bola, berani melepas umpan yang memotong garis pertahanan lawan, bahkan kadang harus jadi playmaker pertama. Nah, di sinilah Persib masih kelihatan belum pas.
Bek-bek Persib sekarang lebih kuat bertahan daripada membangun serangan. Makanya Notsuda atau Lucho sering turun sampai sejajar dengan bek tengah supaya proses build-up tetap jalan.
Waktu lawan Persebaya, kelihatan beberapa kali Persib hampir kena batunya.
Ada passing yang salah. Ada pemain yang telat balik. Ada juga posisi antarpemain yang terlalu jauh. Begitu bola hilang, Persebaya langsung menyerang ruang kosong. Untung saja belum jadi gol.
Kalau lawannya tim yang lebih tajam saat transisi, situasinya bisa berbeda.
Jujur aja, minbol suka melihat tim yang bermain cantik. Operan pendek. Build-up rapi. Penguasaan bola tinggi. Enak dilihat.
Tapi Liga Indonesia sering kali punya cerita lain. Kompetisi ini masih sangat identik dengan duel fisik, second ball, dan serangan balik cepat. Makanya, banyak tim yang bermain sederhana justru lebih konsisten meraih hasil.
Di sinilah tantangan terbesar Igor Tolic. Bukan soal membuat Persib bermain lebih indah. Yang jauh lebih sulit adalah membuktikan kalau sepak bola berbasis penguasaan bola tetap bisa membawa Persib juara.
Kalau berhasil, Persib akan naik kelas sebagai tim modern yang bukan cuma kuat saat bertahan, tapi juga mampu mengendalikan pertandingan.
Tapi kalau tidak, bukan tidak mungkin publik Bandung kembali berkata, "nggak usah ribet-ribet, yang penting tiga poin."
Karena pada akhirnya, dalam sepak bola, orang memang menikmati permainan indah. Tapi yang paling lama dikenang tetaplah tim yang mengangkat piala.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!






