VAR Hanya Alat Bantu, Kontroversinya Berasal dari Wasit
Gak heran kalau masih saja banyak klub yang sebel dan merasa rugi gara-gara keputusan wasit.

Sumber: Istimewa
Video Assistant Referee (VAR) ada untuk meminimalkan manusia berbuat salah. Dengan VAR, wasit dapat meninjau kejadian yang gak kelihatan sama mata. Tujuannya agar semua keputusan di lapangan tepat dan gak ada klub yang dirugikan.
Tapi di Indonesia Super League, penggunaan VAR gak ujuk-ujuk ngebuat semua klub puas. Ada saja kontroversi dan ketidakpuasan yang muncul. Kok bisa gitu, ya?

VAR pada dasarnya ada untuk meminimalkan potensi kesalahan wasit ketika bertugas. Catat, ya, meminimalkan bukan menghilangkan. Mata wasit bukan kamera yang bisa nge-zoom dan ngerekam semua kejadian di lapangan dengan rinci.
Wasit juga gak punya kemampuan untuk ngulang kejadian dalam gerak lambat sebelum ambil keputusan. Segala sesuatunya harus cepat. Ada kejadian, ada keputusan. Itu yang buat wasit sering ambil keputusan salah, dan itu juga yang jadi alasan VAR ada.
Dengan adanya VAR, wasit dapat bantuan untuk meninjau empat situasi krusial yang jadi prinsip utama VAR itu sendiri, yakni Gol dan Pelanggaran Jelang Gol, Keputusan Penalti, Kartu Merah Langsung, dan Kesalahan Identitas.
Di luar empat situasi tersebut, wasit gak bisa minta bala bantuan dari VAR. Apalagi untuk urusan pelanggaran-pelanggaran kecil. Kalau semua pake VAR, wasit kerja apa, kan, ya? Hehehehe.
Meski sudah pake VAR, keputusan wasit di Indonesia Super League masih aja kontroversial. Ini karena VAR dijalankan oleh manusia.
Ada banyak hal terjadi di balik konfirmasi keputusan setelah tinjauan ulang dari VAR. Mulai dari interpretasi operator VAR akan kejadian, penggunaan teknologi seperti garis khayal offside, sampai diskusi operator VAR dan wasit di lapangan.
Setelah semua rangkaian panjang itu, wasit dengan segala pertimbangan dan pemahamannya tentang Law of the Game (LOTG) mengambil keputusan. VAR hanya membantu, bukan menentukan. Semua keputusan ada di tangan wasit.
Kalau masih ada kontroversi, operator liga harus fokus pada kapasitas dan kapabilitas wasit itu sendiri, bukan pada kecanggihan VAR. Sebagai pengadil lapangan, wasit memang harus bisa menerjemahkan dan menerapkan peraturan dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya.
Jika VAR ada untuk menyingkap apa-apa yang tidak tertangkap mata, kenapa segala prosesnya gak transparan? Misal, diskusi antara wasit dan operator VAR didengarkan kepada penonton, baik di tribun maupun depan televisi.
Jangan sampai, penonton hanya berharap-harap cemas ketika ada pemberitahuan “CHECKING”, terutama setelah gol, tanpa tau apa yang lagi didiskusikan di lapangan. Ini sebenarnya pernah terjadi di A-League 2019 saat Sydney FC vs Melbourne City. Perbincangan wasit dan operator VAR ditayangkan di siaran pertandingan. Setuju, gak?
Selain transparansi, proses peninjauan VAR sampai wasit ambil keputusan perlu juga dipercepat –biar nunggunya gak lama. Minbol suka kasian sama pemain yang cetak gol, tapi golnya ditinjau VAR –cuma bisa melamun. Kalau golnya batal, selebrasinya juga sia-sia. Menyakitkan.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!





