Bobotoh Menangis dan Tertawa Karena Remontada
Di ujung musim, sepakbola tak lagi sekadar soal angka. Ini tentang degup yang tak bisa dijelaskan, tentang harapan yang diam-diam dipanjatkan, dan tentang rasa yang kadang terlalu penuh untuk ditahan.

Sumber: ig/@persib
Tulisan ini dibuat ketika Indonesian Super League menyisakan empat pertandingan sisa dengan Persib dan Borneo (juga Persija) yang masih berpeluang juara.
Sehari sebelumnya, Borneo dan Persija meneruskan tren positif kemenangan mereka, sementara esoknya, Persib berhasil keluar dari rentetan hasil seri di dua pertandingan sebelumnya, dengan remontada yang bikin berdegup dada.
Dua tim memiliki nilai yang sama 69, sementara peringkat tiga mengintai dengan selisih tujuh poin. Meski bukan jarak yang mustahil dipangkas, tapi praktis tim yang berjuang di akhir empat laga hanya tersisa dua.
Tanpa diminta, para pengamat di media sosial lantas ramai membuat hitung-hitungan, menakar siapa punya peluang lebih besar. Banyak podcast mengangkat tema dan hitungan menjemukan, tapi tulisan ini bukan tentang itu.
Bagi para penantang gelar juara, Persib dan Borneo FC, tentu saja akan melakukan segalanya tanpa diminta: melipatgandakan latihan, mengotak-atik strategi, memantau pergerakan dan kelemahan saingan.
Momen-momen penentuan gelar juara ini menjadi krusial. Ketika pemain berjuang mati-matian di lapangan, jajaran pelatih dan manajemen memastikan support system berjalan optimal. Lalu suporter bisa apa?
Dukungan kelompok suporter, mungkin bisa jadi alat penekan. Seperti ajakan Viking, kelompok terbesar pendukung Persib yang siap menemani para pemain di sesi latihan di 5 pertandingan terakhir ini. Dukungan moril seperti yang diminta Kapten Klok selepas hasil seri lawan Arema.
Kelak, tiap sesi latihan, suntikan semangat akan selalu terdengar, lewat chant yang biasa dikumandangkan, atau lagu prelude selepas pertandingan. "We are stay behind you, " begitu kata lirik lagu buatan Band Kuburan, yang mulai dilantunkan bobotoh yang selalu berada di belakang mendukung Persib Bandung. Bahkan ketika mereka bertandang ke Lampung.
Mereka yang berjarak dari stadion jelas bukan karena tak mau menonton langsung. Di sana mungkin ada PNS golongan dua dari Ciamis, yang tiap Persib main di kandang harus menyisihkan gaji yang tak seberapa. Boleh jadi Mamang Cuankie yang memasang stiker besar logo Persib di pikulan aluminumnya dan berharap bintang di logonya jadi lima.
Kamu juga bisa jumpai di satu akun instagram, seorang anak yang tiap Persib main, orang tuanya yang berkelana ke timur tengah selalu membuat konten video Persib. Memotretkan kebiasaannya menggunakan jersey, bercakap antusias tentang siapa yang akan bermain dengan bahasa campuran sunda dan Arab, dan berharap hari itu tim idolanya jauh di tanah pasundan bisa menang.
Relasi para suporter dengan klub idolanya selalu jadi sisi berbeda yang kaya makna. Relasi yang ditandai dengan hal-hal berharga yang (hanya) mereka punya: harapan, kejutan dan (mungkin) kekecewaan. Kenapa bukan kegembiraan? Karena akhirnya kegembiraan bisa menjadi milik siapa saja, bahkan mereka yang tak suka bola, ketika timnya juara.
Kemenangan Persib di kandang Bhayangkara Lampung FC (ironisnya dengan jumlah pendukung tim away yang jauh lebih besar dari tuan rumah) melambungkan kembali asa juara yang sempat hilang. Ugly win yang dirindukan.
Antusiasme yang sama dengan ekspektasi Fabio Lefundes, yang merasa bahwa gelar juara Borneo FC di tahun ini adalah pengobat luka, saat dua tahun lalu gagal juara, padahal sepanjang musim capaian poinnya paling tinggi. Sesuatu yang tak pernah bisa dibayangkan. Kekecewaan terpendam karena piala yang terbang ke Bandung, membuat Persib berbuka puasa juara setelah 10 tahun. Sesuatu yang sedikit lagi diraih Borneo, tapi masih menyisakan kecewa.
Momen-momen kejutan dalam sepakbola selalu menyajikan dua sisi: kegembiraan dan keputusasaan.
Seperti yang terjadi di tahun 1999, siapa yang menyangka di Final Liga Champions Eropa, Bayern Muenchen yang unggul 1-0 sampai menit 90+1 dan bersiap merayakan gelar juara, tetiba dikejutkan, bukan hanya sekali, tapi dua kali oleh Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer. Manchester United mengubah sejarah dalam dua menit, membuat Sir Alex Ferguson menyebutnya sebagai "football, bloody hell".
Semua pelatih di liga ini, yang lokal ataupun asing, tentu bisa belajar dari kejadian-kejadian dramatis tadi, tapi untuk merasakan sendiri momen-momen yang mengubah hidup mereka, tak semua punya keistimewaan itu.
Bojan Hodak sudah merasakannya di dua tahun terakhir. Dia yang selalu punya cara untuk membalikkan keadaan genting dalam banyak pertandingan penting satu waktu pernah ditanya wartawan di Malaysia, "Apa yamg membuat Anda begitu tenang, seolah tahu kalau keadaan macam ini bakal terjadi?"
"I dont know, I'm just lucky!" Jawabnya singkat. Keberuntungan itulah yang ia butuhkan lagi saat ini. Di momen semua harapan kolektif, mau dari Pasundan atau Kalimantan saling beradu. Harapan kolektif jutaan orang yang entah milik siapa yang bakal dikabulkan. Entah siapa kebagian kekecewaan di saat yang lain bertaburan kegembiraan. Mungkin saja di konferensi pers selepas laga, Bojan akan mengatakan hal yang sama. "Its a tough and interesting game, and we're just lucky," demi menjaga asa tetap memijak bumi di sisa empat laga.
Tapi buat kita yang menonton di layar kaca, rasanya perlu lebih jujur dengan perasaan yang ada, menikmati keseruan ini dengan lebih gembira. Menikmati ketegangan saat tim idola saling mengkudeta puncak klasemen. Merasakan kecemasan yang tahu-tahu sudah berada di situ, dan tiba-tiba dikejutkan dengan bonus momen-momen dramatis macam remontada.
Sah-sah saja melambungkan harapan, meski tetap sisakan ruang ikhlas di sana.
Perjuangan pemain di lapangan, teriakan pelatih di ruang ganti yang mengubah arah pertandingan, tayang ulang gol-gol yang menghias layar kaca dengan drama VAR, semuanya takkan ada tanpa doa doa terpanjat yang tak terlihat. Lalu ketika doa-doa itu saling beradu, kita tak pernah tahu, benang takdir tersulam itu dirajutkan untuk siapa. Tanah Pasundan atau belantara Kalimantan?
*Bandung, 30 April 2026.
@tjapdjai satu dari jutaan bobotoh sa-alam dunya. Mencintai sepakbola sambil mengikat makna dengan kata-kata.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!




