Drama Garis Out: VAR Hanya Alat Bantu, Wasit yang Menentukan
Sepak bola itu bukan cuma soal hitam dan putih, tapi juga soal bagaimana sebuah keputusan bisa diterima.

Sumber: ig/@dewaunitedfc
Kalau nonton laga Dewa United vs Persib kemarin, Kabol pasti paham kenapa garis out lagi jadi trending topic atau hot issue. Bukan soal gol, tapi proses sebelum gol. Proses itu bikin orang mikir dan nanya: “Itu bola sudah keluar belum, sih? Keliatannya sudah, tapi kok …” AHHHHHHHHHHHHHHH.
Jadi ceritanya dimulai dari Alexis Messidoro yang ambil bola di sisi lapangan. Dari beberapa tayangan ulang, posisinya tuh abu-abu banget. Sekilas kayak sudah lewat garis, tapi di angle lain masih kelihatan “nempel”.
Nah, masalahnya di sini, gak ada satupun kamera yang benar-benar bisa ngasih bukti pasti. Akhirnya wasit tetap lanjutkan permainan, umpan masuk, dan gol. Itu sah.
Perdebatan mulai liar. Banyak yang langsung nanya: “VAR ke mana?” Padahal Video Assistant Referee (VAR) itu bukan sulap yang bisa jawab semua hal dengan pasti. VAR tetap butuh bukti visual yang jelas. Kalau kameranya burik dan gak ngasih angle yang meyakinkan, ya ujung-ujungnya balik lagi ke interpretasi.
Bandingin sama Goal Line technology (GLT). Kalau ini kasusnya bola sudah melewati garis gawang atau belum, selesai dalam satu detik. Ada sinyal, ada keputusan, gak ada debat panjang. Tapi masalahnya, kejadian kayak Messidoro ini ada di fase sebelum gol, dan di area itu, GLT gak bisa bantu apa-apa.
Jadi Kabol sebenarnya lagi lihat satu realita yang cukup “relatable” di sepak bola modern, teknologi itu ada, tapi belum selalu cukup. VAR bisa bantu banyak hal, tapi gak selalu kasih kejelasan. Kadang malah nambah ruang debat, apalagi kalau bukti yang ada setengah-setengah.
Nah, kalau kejadian kayak gini terjadi, sebenarnya apa yang harus dilakukan wasit di lapangan? Secara aturan, keputusan awal tetap ada di tangan wasit utama dan asisten wasit. Mereka harus mengandalkan posisi, sudut pandang, dan komunikasi satu sama lain. Kalau merasa ragu tapi tidak ada bukti jelas bahwa bola sudah keluar, maka prinsip yang dipakai adalah “play on”, lanjutkan permainan.
VAR hanya bisa intervensi kalau ada bukti yang jelas dan meyakinkan (clear and obvious error). Kalau tidak? Keputusan di lapangan tetap berlaku. Itulah kenapa dalam kasus ini, meskipun terlihat meragukan, gol tetap disahkan. Karena dari sisi regulasi, tidak ada bukti kuat untuk membatalkan prosesnya.
Yang menarik, momen kayak gini selalu punya dua versi cerita. Versi pertama, yang resmi, gol sah, skor berubah, pertandingan lanjut. Versi kedua, versi publik, yang terus dibahas, diulang, dianalisis frame per frame, bahkan sampai berhari-hari.
Sepak bola itu bukan cuma soal hitam dan putih, tapi juga soal bagaimana sebuah keputusan bisa diterima. Ketika satu momen masih bikin orang ragu, di situlah drama sebenarnya dimulai.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!




