PERSIB VS AREMA: Tentang Kecewa dan Kembali Menjadi Manusia
Tulisan dari Bobotoh Persib, Arif Zaidan, tentang Persib, hyperreality, dan Albert Camus.

Sumber: Istimewa
Saya berutang cerita pada seseorang di kawanbola.id ini, yang menagih tulisan opini saya tentang Indonesia Super League kita tercinta. Hari itu, di pertandingan Persib vs Arema, Jean Baudrillard dan Albert Camus membantu membayarkan utang itu.
Saya Bobotoh biasa saja. Tak tergabung dalam komunitas bobotoh manapun. Sesekali beli jersey ori, terutama ketika diskon besar di off season. Meski masuk kategori fans klub yang punya daya beli, tapi nonton di stadion bisa dihitung jari. Lebih ke alasan malas saja. Tidak mau ribut dan ribet.
Jadi pendukung klub di usia jelang paruh baya, dengan kebanggan khas boomers, pernah lihat Ajat Sudrajat angkat trofi dan ikut menyaksikan pawai saat Persib juara perserikatan. Kecintaan pada klub yang terbentuk dari identitas primordial, seperti juga kebanyakan orang di Bandung.
Kendati demikian pertandingan Persib tak pernah saya lewatkan, jika memungkinkan. Lewat layar kaca atas kebaikan Stasiun TV resmi: menikmati kemenangan demi kemenangan, bersorak atas banyak momen gol yang datang (kadang banyak, kadang kurang), selalu memantau aktivitas klub, hafal nama setiap pemain, juga banyak aktivitas mereka di luar lapangan. Sungguh, media sosial sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Bahkan, media sosial melakukannya lebih nyata dari realita yang sesungguhnya. Jean Baudrillard, seorang pemikir bilang ini adalah hyperreality: kondisi di mana simulasi atau representasi jadi "lebih nyata dari yang nyata". Tanda dan citra tidak lagi menunjuk ke realitas asli, tapi menciptakan realitasnya sendiri.

Persib dengan segala perubahan positif di lima tahun terakhir, menjelma menjadi klub super di Indonesia yang mulai merambah Asia. Mereka berhasil memenuhi kebutuhan para pendukungnya, lewat prestasi (back to back dan kandidat kuat hattrick juara), menguatkan identitas primordial (Bandung dan Kesundaan), juga komoditas (trend media sosial, jersey dan kenyamanan menonton di stadion).
Para konten kreator lalu menjuluki Persib sebagai "sumber beras semua orang", karena membicarakan Persib di jagad maya berarti menarik kumparan algoritma, menaikkan engagement, dan tentu saja jadi sumber penghasilan yang tidak sedikit.
Momen bola keluar dan handsball di pertandingan lawan Dewa, perdebatannya masih banyak di berbagai platform. Kekesalannya tak lenyap dalam seminggu, dan kekecewaan berlarut tak juga mengendap. Ini hyperreality yang nyata.
Tapi hari itu, 24 April 2026, momen yang lebih nyata datang tiba-tiba. Ada tawaran tiket compliment di VIP Barat Utara. Gratis. Hanya beberapa jam sebelum kickoff. Sempat bimbang dan banyak menimbang, akhirnya di lastminute saya berangkat. Ini pengalaman pertama menyaksikan Persib di GBLA.
Kickoff jam 19.00, saya baru keluar rumah pukul 18.15, masih sempat Salat magrib dan pasrah, apakah kemacetan Bandung Timur akan menghalangi antusiasme ini. Sepanjang perjalanan degup kencang ingin tiba sebelum kickoff bercampur dengan ketakjuban melihat geliat masyarakat saat Persib main. Begitu hidup, nyata dan selalu bikin berdecak kagum. Rombongan yang jauh dari luar kota, remaja tanggung yang cari dalih keluar rumah, calo tiket yang masih cari kesempatan, hingga banyak pedagang di stadion yang benar-benar menjadikan Persib sebagai "sumber beras".
Lima menit sebelum kickoff saya sudah hinggap di tribun dengan ketakjuban baru. Kemegahan stadion, antusiasme penonton, nyanyian tanpa henti penyemangat para idola, dan sosok asli para pemain. Ya, melihat mereka sebagai yang nyata ketimbang di layar kaca sungguh berbeda. Tepuk tangan, teriakan, nyanyian dukungan hingga cacian, akan menggantikan obrolan 90 menit komentator TV yang selama ini menemani.

Tapi di tengah keriuhan yang bikin larut itu, saya menemukan Albert Camus di sana.
"All that I know most surely about morality and the obligations of men, I owe to football."
Di luar pengalaman pribadinya sebagai mantan kiper, Camus punya postulat tentang sepakbola dan absurditas yang mewakili kita semua. Katanya, sepakbola mengajarkan dia tentang solidaritas, kerja tim, keadilan, dan menerima kekalahan tanpa kehilangan martabat.
Persib memulai pertandingan dengan tempo lambat. Para pelatih berteriak dari pinggir lapangan, memberi instruksi dan saling merespons strategi. Nyanyian dukungan terus digelorakan. Teriakan kekesalan kerap terdengar, memprotes keputusan wasit yang tak sesuai harapan.
Beberapa momen membuat nafas tertahan dan suara tercekat. Nyaris gol. Kekecewaan pemain yang gagal dan kelegaan lawan kareana bola tak bersaranv di jala. Tepukan para pemain yang saling menguatkan. Adu badan berebut ruang depan gawang.
Semuanya terasa nyata ketika dilihat di tribun, bukan di layar kaca. Seolah Camus mensabdakan, "hey sesekali matikan layar kacamu, simpan gawaimu, pergilah ke stadion dan rasakan!"
Di stadion, ruang fisik itu nyata. Sebelas pemain jadi simbol harapan melawan sebelas pemain untuk dikalahkan. Satu wasit dan dua asisten yang menangguk pahala karena digoblog-goblog suporter.
Di sana ada local hero yang lahir tak jauh dari stadion dan berlari di lapangan untuk kebanggan klub yang dia cintai: Beckham Putra dan Gede Bage Pride.
Satu momen yang membuat seisi stadion nyaris bersorak karena satu lawan satu dengan kiper berakhir dengan tepisan. Menyisakan penyesalan yang mungkin baru lupa setelah sepekan.
Hari itu Persib mengakhiri rekor 14 kemenangan kandang beruntun dengan hasil seri lawan Arema. Bahkan yang jadi Man of The Match, adalah Kiper Arema yang sering dipanggil Kakek Lucas Frigeri, karena usianya tak lagi muda. Tapi ketangguhan tak selalu diukur dari usia, dan Dewi Fortuna bisa menunjuk siapa saja, tak harus dari Persib, bisa juga dari Arema.
Semua itu, kata Camus adalah momen-momen indah Sepakbola yang autentik. Memaknai pertandingan dari aksi-aksi di lapangan, bukan dari feed, konten dan kolom komentar yang bertebaran. Supporter menyanyikan "Kuingin, kita harus menang" berulang-ulang, tapi bola tak kunjung bersarang di gawang.
Kamu tetap bisa cinta klubmu, tapi cinta yang sadar kalau klub yang kamu cinta tak selalu memberikan hasil yang kamu harapkan. Kekecewaan seri rasa kalah ini mungkin menyesakkan, tapi seminggu kemudian orang-orang akan tetap membeli tiket, effort maksimal ke stadion dan memelihara harapan itu hingga Persib jadi (benar-benar) Juara di musim ini.
Di pertandingan Persib versus Arema, saya datang sebagai Baudrillard namun pulang sebagai Camus.
Mencoba mendetoks identitas yang dibentuk hyperreality dan kembali menjadi manusia yang perlu lebih banyak mencerap banyak keindahan dari hal nyata.
Malam itu saya pulang dengan absurditas penyesalan versi pribadi, "Saya sudah datang, tapi gol tak kunjung datang"
Arif Zaidan l bobotoh biasa. Bisa dijumpai di IG @tjapdjai.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!





