Pemain (Bisa) Takut Sama Suporter Klub Sendiri
Suporter itu punya dua sisi. Sisi pertama bisa jadi energi tambahan, di sisi lain bisa buat pemain klub kesayangan merasa takut dan terancam.

Sumber: Rizal FS/kawanbola.id
Narasi soal suporter sepak bola selalu wangi. Ada yang percaya bahwa suporter adalah pemain keduabelas. Kehadiran mereka di tribun stadion bisa menguatkan mental pemain sekaligus buat lawan tertekan. Sorak-sorai dan nyanyian suporter akan berdengung sepanjang laga.
Di sisi lain, suporter tentu berekspektasi tinggi. Ekspektasi ini berpotensi membuat pemain klub kesayangan terancam. Jika hasil laga gak sesuai ekspektasi, mereka akan banyak bertanya dan meragukan kualitas klub sendiri. Jika performa lagi bapuk, pemain harus siap-siap dengan pesan dan komentar negatif di akun media sosial pribadinya.
Sudah ada banyak insiden soal serangan suporter di media sosial, bahkan ke klub atau tim kesayangan sendiri. Teraktual, Kevin Diks mendapatkan komentar negatif usai tampil di FIFA Series. Tekel Diks yang berujung penalti buat Bulgaria dinilai jadi sumber kekalahan Timnas Indonesia di final FIFA Series.
Selain Diks, pemain Indonesia Super League mendapatkan perlakuan yang sama. Thom Haye bahkan mendapat teror. Lalu, beberapa pemain lainnya menerima pesan-pesan rasis. Tentu saja, insiden seperti itu berpotensi membuat pemain sepak bola merasa terancam.
Hasil survei FIFPro dapat memperlihatkan bagaimana pemain-pemain sepak bola sekarang sering merasa terancam karena agresivitas dari suporter. FIFPro yang merupakan organisasi perwakilan global untuk lebih dari 70.000 pesepakbola profesional di seluruh dunia pernah melakukan survei.
Hasilnya, 76 persen pesepakbola profesional yang menjadi responden merasa keselamatannya terancam. Itu karena adanya indikasi peningkatan serangan fisik dan verbal kepada pemain dari suporter, baik suporter lawan maupun suporter klub sendiri.
Masih merujuk hasil survei FIFPro, 66 persen pesepakbola profesional yang menjadi responden berpandangan bahwa suporter sekarang semakin agresif dari tahun-tahun sebelumnya.
Ancaman soal keselamatan pesepakbola profesional di lapangan meliputi pelemparan benda, adanya kembang api, nyanyian ofensif, bus klub diserang, dan PITCH INVASION alias suporter masuk ke lapangan.
Pesepakbola profesional dunia pun memahami bahwa media sosial telah mengubah batasan-batasan antara pemain dan suporter. Melalui media sosial, suporter bisa dengan mudah menyampaikan pesan-pesan selalu langsung. Sayangnya, pesan itu gak selalu soal dukungan, tetapi juga ancaman dan cemoohan.
Padahal, 88 persen pesepakbola profesional yang menjadi responden survei FIFPro percaya banget kalau suporter adalah bagian terpenting dari klub.
Sudah seharusnya suporter mendapatkan edukasi yang intens tentang mendukung klub tersayang dengan baik –sesuai regulasi yang berlaku. Sudah sepatutnya juga suporter mulai menjaga jari-jari mereka di media sosial. Serangan berupa teks bisa menjatuhkan mental pemain. Performa mereka pun bisa goyah.
Katanya sayang, tapi kok merundung pemain klub sendiri.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!






