Carrick dan Eks Gelandang Bertahan yang Jago Ngeramu Taktik
Ada penelitian yang memperlihatkan bahwa gelandang bertahan itu punya daya periferal lebih tinggi ketimbang pemain di posisi lain.

Sumber: Manchester United
Carrick jadi bukti nyata sekaligus menegaskan narasi bahwa pelatih top dunia dan oke itu adalah pelatih yang pernah bermain sebagai gelandang bertahan. Narasi yang sudah berdentum jauh-jauh hari dan kembali bergaung.
Ya, Carrick waktu jadi pemain merupakan gelandang bertahan ternama dan jago bener. Tapi, gak cuma Carrick. Banyak, kok, contoh dan narasi soal pelatih-pelatih sukses, terutama dalam 25 tahun terakhir, yang dulunya main sebagai gelandang bertahan.
Ada Pep Guardiola yang sudah mendapatkan banyak trofi prestisius. Lalu, ada nama Fabio Capello, Rafael Benitez, Frank Rijkaard, Diego Simeone dan Xabi Alonso. Selain itu, masih banyak pelatih kelas dunia yang dulunya main sebagai gelandang bertahan.
Pertanyaannya: Kenapa banyak gelandang bertahan yang jadi pelatih kelas dunia? Sebenarnya ada banyak banget narasi yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi mari kita telusuri dan rangkum.
Kalau kata Johan Cruyff, gelandang bertahan itu posisi yang rumit dan sulit. Gelandang bertahan harus jadi titik awal serangan sekaligus pintu pertahanan pertama. Dalam menjalankan tugasnya, gelandang bertahan harus rajin melihat ke depan, belakang, kanan, dan kiri.
Karena itu, masih kata Johan Cruyff, gelandang bertahan harus memiliki kesadaran yang sangat baik dan kemampuan untuk membuat keputusan dengan cepat. Kesadaran akan ruang adalah bagian mutlak bagi gelandang bertahan. Apalagi, nih, area pandangan gelandang bertahan itu luas.
Ada juga penelitian yang memperlihatkan bahwa gelandang bertahan itu punya daya periferal lebih tinggi ketimbang pemain di posisi lain. Daya periferal itu kemampuan melihat ruang ke samping, depan, dan belakang.
Berbeda dengan pemain tengah lainnya, gelandang bertahan mesti tetap awas melihat kondisi belakang saat menyerang. Gelandang bertahan harus bisa melihat ruang-ruang mana saja yang dapat dieksploitasi lawan saat serangan balik. Ini buat peran gelandang bertahan semakin kompleks.
Kompleksitas inilah yang membuat mantan-mantan gelandang bertahan bisa menjadi pelatih oke banget. Karena mereka tahu bagaimana mengeksploitasi ruang di pertahan lawan saat menyerang, dan tahu ruang mana yang mesti ditutup saat bertahan.
Pemahaman sekaligus pengalaman ini yang buat mantan gelandang bertahan dapat meramu taktik lebih progresif saat melatih. Mereka tahu bagaimana cara menyerang yang baik sekaligus bertahan dengan kokoh.
Manchester United di bawah asuhan Carrick bisa menjadi bukti paling aktual. Manchester United main dengan efektif, entah saat bertahan maupun menyerang. Itu, mungkin saja, terjadi karena pemahaman dan pengalaman Carrick saat bermain sebagai gelandang bertahan.
Ngomong-ngomong soal Carrick, pantes gak, sih, dia dijadiin pelatih permanen aja untuk Manchester United. Minimal sampai musim depan.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!






