Merayakan “Kesunyian” Teja Paku Alam
Narasi-narasi soal kiper memang selalu menyesakkan. Ada yang bilang kiper berkawan dengan kesunyian. Jauh dari perayaan gol. Tapi ketika kebobolan, kiper menjadi terdakwa.

Sumber: ig/@tejapakualam
Teja Paku Alam menunjukkan bahwa ia bukan kiper yang layak mendapat olok-olok karena lambat bertransformasi menjadi kiper modern –kiper yang piawai distribusi bola dan aktif meredam serangan lawan.
Umpan-umpannya memang sering membuat hati gelisah, tetapi Teja seperti menegaskan bahwa penyelamatan dan menjaga kesucian gawang lebih berat dan penting dari segalanya.
Teja musim ini adalah Teja yang luar biasa. Umpan-umpannya mungkin biasa saja. Penguasaan bolanya pun gak sekalem dan selihai Kevin Mendoza. Tapi, Teja memperlihatkan bahwa menepis tembakan lawan dan memotong umpan silang bukan perkara mudah.
Untuk menunaikan itu, kiper tidak hanya dituntut jago melompat, tetapi juga harus piawai memposisikan diri sebelum bola meluncur deras. Itu belum ditambah waktu yang tepat untuk melompat. Telat nol koma sekian detik saja, gawang bisa ternodai.
Teja bisa menunaikan misi abadi kiper dengan sangat baik sepanjang musim ini. Penyelamatan Teja mungkin biasa-biasa saja. Banyak orang mungkin bilang:
“Semua kiper juga bisa ngelakuin itu.” Tapi untuk buat penyelamatan biasa itu, butuh skill yang sangat mumpuni. Perlu dilihat bagaimana Teja bergerak sebelum tembakan datang.
Kalau kata mantan kiper Chelsea dan AC Milan, Asmir Begovic, memosisikan diri untuk menutup ruang tembak sekaligus gawang butuh insting dan kapabilitas yang gak sembarangan.
Setengah langkah bergerak terlalu ke sisi kanan atau kiri, bola akan susah dijangkau dan bisa berujung kebobolan. Pergerakan tanpa bola yang oke gak cuma buat striker, tetapi juga kiper.
Teja memiliki kapasitas dan kapabilitas yang Begovic bilang. Sebelum bola melesak, Teja sudah menutup banyak ruang yang bisa membuat jala gawang bergetar.
Oke, pertahanan Persib musim ini sangat kokoh. Selain punya bek-bek berkelas, sistem pertahanan mereka juga sangat komprehensif. Tapi, Teja adalah bagian penting dalam sistem itu.
Narasi-narasi soal kiper memang selalu menyesakkan. Ada yang bilang kiper berkawan dengan kesunyian. Jauh dari perayaan gol. Tapi ketika kebobolan, kiper menjadi terdakwa.
Jika kebobolan sedikit, kiper kerap dinomorduakan. Sebab, jumlah kebobolan sedikit itu karena pertahanan tangguh, bukan gara-gara kiper. Padahal, ini satu kesatuan yang gak bisa terpisahkan.
Musim ini, Teja menjungkirbalikkan narasi soal kesunyian dan pesakitan penjaga gawang. Lewat catatan 16 cleansheet, Teja bisa memperlihatkan bahwa kiper pun berhak berpesta pora meski selalu jauh dari perayaan.
Tinggal dua cleansheet lagi yang perlu Teja catatkan untuk membuat sejarah: Cleansheet terbanyak dalam satu musim, yang selama lebih dari 13 tahun dipegang oleh Yoo Jae-hoon dengan catatan 17 cleansheet.
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!




