Mencintai Persija di Tanah Pasundan
Saya Wanda. Lahir di Tasikmalaya. Tapi, saya mencintai Macan Kemayoran. Ini cerita saya.

Sumber: ig/@persija
Bulan lalu, saya datang ke Bandung. Bukan untuk sekadar berlibur, tapi juga menonton Persib Bandung bertanding. Perbincangan di stadion dan sekitar Stadion GBLA selalu berkaitan dengan: “Persib itu tradisi.” “Persib mah bahasa hate.”
Perbincangan itu semakin membuat saya sadar dan yakin betul bahwa: Sepak bola bukan hanya sebatas laga, bukan soal menang-kalah, tetapi juga olahraga yang hidup, tumbuh, dan membentuk identitas orang-orang.
Btw, saya lahir dan besar di Tanah Pasundan, tepatnya Tasikmalaya. Sebagai orang Jabar, saya memahami betul bahwa kecintaan terhadap Persib seringkali diwariskan secara turun-temurun. Dari kakek, ke ibu/ayah, lalu ke kita.
Maka gak usah heran kalau banyak bobotoh yang bilang: Persib itu tradisi. Persib bahasa hate. Persib salawasna. Persib nu aing. Kata-kata itu sudah cukup mencerminkan dan menggambarkan semuanya.
Tapi … saya berbeda. Dua belas tahun lalu atau saat duduk di kelas 4 SD, saya ikut-ikutan teman untuk suka dan dukung klub sepak bola. Pengetahuan saya saat itu jelas dangkal sekali. Yang saya tahu dari sepak bola juga cuma dua nama: Persib dan Persija. Gak lebih, gak kurang.
Tanpa memahami sejarah, rivalitas, atau makna di baliknya, saya yang merupakan warga asli Tasikmalaya justru memilih dan menyukai Persija Jakarta, bukan Persib Bandung. Alasannya? Saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan ingin terlihat beda, ya!
Di tengah teriakan teman-teman yang lantang mendukung Persib, saya tetap duduk di depan televisi, menyaksikan pertandingan Persija. Saya sangat mengagumi Bambang Pamungkas, Legenda Persija.
Dari sana, saya mulai mengenal pemain satu per satu pemain, menonton pertandingan, dan menunggu laga berikutnya walau hanya sebatas di layar kaca. Tidak ada satupun anggota keluarga atau saudara yang mendukung Persija, pilihan itu tumbuh sendirian, tanpa ada teman.
Mencintai dan mendukung Persija dari Tanah Pasundan bukan perkara mudah. Seringkali candaan yang menyesakkan dan mengesalkan datang dari orang terdekat –teman dan keluarga.
Tapi, candaan dari orang-orang terdekat itu justru membuat saya semakin mencintai dan menyukai “Macan Kemayoran.” Persija bukan lagi sekadar klub, melainkan identitas yang tumbuh, menguat, dan semakin sulit dilepaskan.
Seiring berjalannya waktu sepakbola semakin melekat dalam hidup saya. Menonton langsung ke stadion, merayakan kemenangan, dan tetap bertahan saat tim terpuruk. Dalam kondisi apapun saat klasemen di atas atau jatuh ke bawah anak itu tetap berdiri sebagai pendukung Persija.
Jika ditanya apa alasan saya mendukung Persija, mungkin saya tidak akan pernah menemukan jawaban yang logis. Bagi saya, setiap orang berhak mencintai klub manapun tanpa harus terikat pada asal daerah tempat ia dilahirkan atau dibesarkan.
Pilihan klub bukan soal geografis, melainkan soal hati tentang ke mana rasa itu berlabuh. Mencintai klub sepak bola adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksa dan diatur.
Belasan tahun tinggal di Tasikmalaya dan Bandung membuat saya terbiasa akrab dengan nyanyian dukungan Persib, juga ejekan dari teman-teman. Kami tumbuh dan hidup berdampingan masing-masing dengan klub favorit yang berbeda.
Mereka sering tertawa dan berkata bahwa saya ini lucu sehari-hari berbicara bahasa Sunda yang melekat, tetapi mendukung Persija. Walau sekarang udah tiga tahun tinggal di Jakarta, kebiasaan itu tetap melekat hahaha
Saya menaruh kagum pada mereka yang menjaga dan menjalankan tradisi dengan sepenuh hati, yang mencintai klub warisan tanah kelahirannya dengan bangga.
Ada keindahan dalam kesetiaan itu seperti halnya tradisi yang layak dihormati, pilihan hati pun layak diterima. Pada akhirnya, ini bukan tentang melawan tradisi. Hanya saja, saya tidak tumbuh di dalam alur itu: Saya mencintai Persija dari Tanah Pasundan.
Persija Selamanya!
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!




