“Macan Kemayoran” Rapuh di Penghujung Laga
Enam dari 12 kebobolan Persija di sepuluh laga terakhir terjadi di atas menit 80.

Sumber: ig/@persija
Entah kenapa Persija Jakarta musim ini agresif di awal laga, tapi rapuh di sepuluh menit terakhir. Dalam sepuluh laga terakhir, Persija kebobolan 12 kali. Dari kebobolan itu, enam kali terjadi di sepuluh menit terakhir.
Kemenangan yang udah di depan mata tiba-tiba sirna. Satu poin yang bakal diamankan rontok seketika. Target jadi juara pelan-pelan memudar.
Persija-nya Mauricio Souza punya gaya main yang agresif dan ofensif. Serangan mereka cepat. Tidak terlalu banyak memainkan bola di area sendiri. Langsung progres ke pertahanan lawan.
Sayap-sayap Persija, macam Maxwell dan Donny Tri, ancaman terbesar bagi lawan. Selain cepat, sayap Persija ini punya dribel dan umpan yang oke. Keputusan mereka juga tepat. Pemain berkelas.
Daya ledak Persija versi Souza enak diliat. Skema yang jelas dalam menyerang membuat Persija sekarang cukup mengasyikkan. Gak heran juga kalau Persija jadi klub terproduktif ketiga dengan rangkuman 47 gol. Hanya kalah dari Malut (52 gol) dan Borneo (51 gol).
Serangan yang agresif dan intens ini gak selalu bernada bagus. Persija selalu rapuh di akhir pertandingan. Enam dari 12 kebobolan Persija dalam 10 laga terakhir terjadi di atas menit 80. Bahkan, Persija kebobolan tiga kali di menit 90 +++.
Banyak yang bilang, stamina pemain Persija terkuras di awal-awal laga. Gaya main agresif dan intens di awal dan tengah laga buat stamina pemain drop. Alasan ini logis karena ada sejumlah temuan yang memperlihatkan.
Misalnya, rata-rata pemain bola lari di lapangan itu sekitar 10-12 km. Tergantung posisi. Dalam jurnal bertajuk “High-intensity running in English FA Premier League soccer matches,” intensitas lari pemain di akhir laga akan menurun.
Tapi, stamina bukan satu-satunya indikator Persija rapuh di akhir laga. Faktor lainnya, ya, skema bertahan Persija di menit-menit akhir. Setelah bermain dengan intensitas tinggi dan unggul, Persija bisa menurunkan intensitas dan bermain lebih dalam. Menjaga kemenangan harus jadi prioritas.
Skema bertahan Persija di akhir laga harus mendapat perhatian Souza. Gimana caranya, pertahanan bisa tetap kokoh setelah bermain dengan intens.
Dalam beberapa laga, Persija justru tetap bermain intens setelah unggul di akhir laga. Keputusan ini tentu sudah diperhitungkan. Tapi, risikonya cukup tinggi. Catatan enam kebobolan di atas menit 80 dalam sepuluh laga terakhir harus jadi bahan evaluasi.
Selain fokus pada peningkatan stamina dan perhitungan intensitas, Souza harus memikirkan cara bertahan dengan cukup dalam. Supaya serangan-serangan lawan di akhir laga bisa dipatahkan.
Hanya itu saja? Tentu saja gak. Perlu juga mempertimbangan pergantian pemain. Kedalaman skuad Persija sudah lumayan oke dengan kedatangan banyak pemain di paruh musim.
Kedalaman skuad emang penting untuk menjaga ritme pertandingan selama 90 menit. Makanya, ada narasi gap kualitas pemain inti dan cadangan setara bisa jadi kunci mengangkat trofi.
Terus, Souza kayaknya harus banyak berpidato kepada pemain untuk menjaga emosi. Ada beberapa kekalahan Persija yang berawal dari pelanggaran-pelanggaran emosional pemain yang berujung kartu merah.
Kalah dari Persib dan Bhayangkara FC bisa memperlihatkan bahwa emosi pemain yang meledak-ledak dan gak terkontrol menggerogoti sedikit demi sedikit peluang menjadi juara.
“Attack win the match, but defence win the title.”
Persija tentu ingin win the title musim ini. Kalau gitu, defence-nya, terutama di akhir laga, harus disusun dengan sekuat mungkin. Kehilangan poin lagi berarti Persija harus siap-siap bilang: Bye-bye Trofi Indonesia Super League atau “Musim Depan Juaranya.”
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!





