Malam tadi Persib menang di Korea.
Pagi ini aku berangkat dari rumah pukul 5.45 untuk mengantar adik ke sekolah di daerah Buah Batu, yang mana cukup jauh dari rumahku di Ujungberung. Badan terasa pegal sisa kerja hari kemarin. Aku pakai jaket terhangatku sebab udara Bandung pagi ini dingin sekali.

Sumber: IG Persib
etelah sepanjang kemacetan berusaha menolak micro-sleep, akhirnya sampai di Buah Batu. Kulepas adik bersekolah, lalu berhenti di pinggir jalan raya untuk sekadar mengumpulkan nyawa. Membuka handphone agar tidak tertidur, masuk kerja masih dua jam lagi.
Sosial media menjadi hal pertama yang dibuka. Pada konten pertama muncul cuplikan gol Persib melawan Seoul FC malam tadi. Lalu dilanjutkan ke halaman explore dengan kata kunci Persib. Kutonton semua video yang muncul satu per satu.
Influencer nasional membanggakan Persib. Content creator Sunda membanggakan Persib. Komika yang tidak berasal dari Jawa Barat membanggakan Persib. Media membanggakan Persib.
Bungah.
Rasa pegal di tubuhku terlupakan, rasa kantuknya hilang, tanpa kusadari, sudah 30 menit aku senyum-senyum sendiri di pinggir jalan. Bukan hanya kontennya, tapi komentar netizen di media sosial juga kubaca satu per satu.
Persib Asia Level Club.
Perasaan aneh muncul: kebahagiaan yang sukar dipercaya. Persib yang aku tonton sejak kecil tiba-tiba sudah menjadi klub dengan kualitas level Asia. Klub ini bertanding di liga asia dan mengalahkan klub peringkat satu Korea Selatan.
Yang menarik perhatianku, ada sekumpul bobotoh yang datang ke Seoul untuk mendukung laga Persib malam tadi. Terbayang teman-teman pekerja di Korea yang mungkin juga sama-sama bekerja di sebuah pabrik, sebagaimana bobotoh di Dayeuhkolot. Timbul rasa keterwakilan, seakan-akan dukunganku juga hadir di sana. Videonya diberi kutipan,
Da Persib mah bahasa hate.
Sebab mendukung Persib tidak selalu tentang hobi sepak bola atau analisis taktik di lapangan. Sering kali, justru mendukung Persib adalah tentang menjaga harapan.
Pendukung Persib tersebar di seluruh Indonesia, khususnya kami orang Sunda. Jika ditanya, sebagian besar dari kami belum tentu paham tentang strategi sepak bola, teknik passing, istilah sepak bola modern, atau tugas-tugas setiap posisi pemain.
Tapi kami paham Persib. Kami paham denging suara tiang gawang ketika Persib nyaris mencetak gol, kami paham intersepsi bek Persib yang mencegah tim kebobolan, kami paham diving save kiper saat menepis bola, kami paham adrenalin melawan rival di liga, kami paham selebrasi gol di menit akhir.
Da Persib mah bahasa hate.
Pagi ini kami, para bobotoh, akan berangkat kerja, menghabiskan tenaga untuk mencari rezeki, di pabrik-pabrik, di jalan, di kantor, di lapangan. Bertemu atasan yang menyebalkan dan melelahkan. Bergelut dengan keadaan yang tidak selalu menyenangkan.
Tapi kami akan tersenyum, sebab semalam Persib menang di Korea.
Rajji Rachmanulhakim
Artikel Terkait
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!






