Sepak Bola Majalengka 90-an
Sepak bola, di masa-masa 90 an, bisa dikatakan bukan sekadar olah raga. Bahkan mungkin muatan olah raganya hanya secuil persen saja.

Sumber: Shutterstock
Maka tidak aneh jika aktivitas bermain bola (mungkin jauh sebelum era 90 an) hampir bisa disaksikan hingga pelosok, bahkan kebun-kebun bambu (ruyuk awi). Alih-alih sebagai olah raga sepak bola, aktivitas itu saya sebut lebih pas dengan titel bermain bola. Di era itu, berbarengan dengan era nya Kekey Zakaria di Persib dan Fery Sandria di Bandung Raya. Lalu Kuniawan Dwi Yulianto dan Aples di Primavera.
Era 90 an, di desa saya, Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, sepak bola bisa berlangsung seru di tengah-tengah ruyuk awi. Hanya karena ada sedikit ruang di antara rumpun bambu, tempat itu kami 'sepakati' sebagai lapangan bermain bola, yang berlangsung setelah ashar sampai adzan magrib terdengar.
Saya sebut aktivitas itu lebih pas disebut bermain bola, ya karena lebih banyak 'bahayanya.' Sehatnya? Sekadar 'semoga'
Beberapa bahaya yang mengancam
Ancaman bahaya sebenarnya sudah terlihat dari 'perlengkapan' yang dikenakan kami. Kaki yang tanpa alas, sudah pasti rawan terhadap apapun. Apalagi ini di ruyuk awi, yang pasti ada sisa-sisa bambu bekas ditebang (Tunggul, Dogel). Jangankan sampai menginjak, nendang gak sengaja aja, Tunggul itu sudah barang tentu akan melukai kaki yang tanpa alas apapun.
Kalau selamat dari ranjau Tunggul? Keseleo jadi ancaman yg paling mungkin. Sebab, tekel-takel yang terjadi itu, ya emang beneran tekel, lebih dari Sergio Ramos. Kapok? Gak. Kalau kena ranjau atau keseleo, akan beristirahat hanya beberapa hari saja. Tidak menunggu sampe bener-bener fits, meskipun masih terpincang-pincang, pasti akan turun lagi. Berhenti bermain, kalau emak datang dengan sapu di tangan (yang gak selalu benar-benar dilemparkan tepat sasaran itu).
Gol itu bukan bola masuk, tapi bola mengenai 'mistar gawang'
Gol berarti bola masuk itu, tidak berlaku di permainan sepak bola kami era itu. Bola masuk, ya bola masuk. Kalau gol, itu teriakan saat bola melintas gawang.
Ya, melintas gawang. Sebab gawang yang kami bikin itu hanya tumpukan bata di dua sisi saja. Makanya, sering ada kecurangan dengan cara memperpendek jarak milik sendiri dan memperpanjang jarak tumpukan bata satu dengan lainnya, di pihak lawan.
Mewah-mewahnya gawang di masa itu adalah patok bambu. Sehingga, tidak jarang kalau 'Roberto Carlos' nendang, bola itu bisa meluncur ke Genteng rumah terdekat atau comberan.
Bergulirnya waktu, lapangan itu sudah jauh lebih 'rapi.' Ruyuk awi sudah say goodbye. Berganti bangunan rumah-rumah dari pemilik lahan.
Sekarang, kami punya lapangan sepak bola besar. Bahkan kami sudah ada SSB, yang setiap kali bermain, akan mudah dikenali mana lawan mana kawan karena mengenakan jersi yang bagus.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda. Komentar yang sopan akan kami tampilkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!







